These are my works ^-^

Kamis, 28 Agustus 2014

Bersama Hujan



Bersama Hujan
Oleh : Selli Tiolita Hasibuan

            Kawan, masihkah tertinggal dalam ingatanmu saat pertama kali kita dipertemukan oleh-Nya? Saat kita ditunjukkan satu jalan yang sama, jalan yang benar. Saat itu kita malu-malu untuk memulai perbincangan. Kita lebih memilih untuk diam. Ya, diam seribu bahasa. Masih kuingat, saat itu kita duduk bersebelahan dan akhirnya kau mengalah dan memulai perbincangan. Tak ku sangka kita telah larut dalam perbincangan yang hangat. Sepertinya kita sangat cocok. Perkenalan kita tak hanya sampai pada tahap itu, kita pun mulai dekat dan sangat akrab. Tak terasa sudah satu tahun lebih kita saling kenal. Kita mempunyai banyak kesamaan bukan? Aku rasa demikian. Menurutmu bagaimana? Sepertinya kau juga sama.
            Kau masih ingat? Kita sering menghabiskan waktu bersama untuk makan mie ayam, makanan kesukaan kita. Makanan yang murah, enak, dan banyak. Pokoknya, cocok banget deh buat mahasiswa kayak kita. Setelah itu kita mampir ke mesjid, melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang Muslim. Kita sepertinya punya tempat favorit yang sama, yaitu mesjid. Ya, sekali lagi kita punya begitu banyak kesamaan. Kita lebih memilih untuk ngobrol sejenak, menceritakan kejadian-kejadian unik di kampus, atau bahkan sekadar bercanda ria daripada pulang ke rumah masing-masing. Kita telah mengunjungi banyak tempat bersama, kita juga telah melakukan banyak hal bersama, yang tentunya sangat sulit untuk kulupa.
            Aku juga masih sangat ingat, saat kau membawakan bubur kacang ijo saat aku sakit, yang kau tahu? Aku bahkan sangat menyukainya. Sepertinya kau sangat peduli padaku. Kau juga selalu ada, bahkan saat keadaanku terpuruk sekalipun, kau tak pernah pergi. Kau bahkan sering memotivasiku untuk tetap bertahan. Kau selalu berkata bahwa kita adalah perempuan multitalent, kita perempuan hebat, apapun bisa kita lakukan. Ahh.. kawan, betapa kau sangat pintar dalam membangkitkan semangatku.
            Hujan adalah saat yang paling kau suka, bukan? Akupun demikian. Kita bahkan sering melakukan hal-hal hebat bersama hujan. Kita menggunakan satu payung bersama, payung yang ukurannya bahkan tidak memadai untuk kita gunakan bersama. Tapi, aku tak peduli meski tetesan yang kucup deras itu mengguyur tubuhku. Sedikitpun tak ku peduli. Lucunya, kita tak ingin kalah dengan merdunya suara hujan, kita masih tetap bercanda ria, mengalahkan merdunya suara hujan. Masih bersama hujan.
            Rasanya begitu banyak kenangan-kenangan yang harus ku gali. Tapi, sepertinya aku tak sanggup. Bulir-bulir air bening pun mulai berjatuhan. Sudah ku bilang, aku tak sanggup. Aku hanya ingin memberitahu satu hal padamu, bahwa aku sangat merindukanmu. Semoga Allah selalu menyayangimu. Untukmu, yang kucintai karena Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar