Bersama Hujan
Kawan,
masihkah tertinggal dalam ingatanmu saat pertama kali kita dipertemukan
oleh-Nya? Saat kita ditunjukkan satu jalan yang sama, jalan yang benar. Saat
itu kita malu-malu untuk memulai perbincangan. Kita lebih memilih untuk diam.
Ya, diam seribu bahasa. Masih kuingat, saat itu kita duduk bersebelahan dan
akhirnya kau mengalah dan memulai perbincangan. Tak ku sangka kita telah larut
dalam perbincangan yang hangat. Sepertinya kita sangat cocok. Perkenalan kita
tak hanya sampai pada tahap itu, kita pun mulai dekat dan sangat akrab. Tak
terasa sudah satu tahun lebih kita saling kenal. Kita mempunyai banyak kesamaan
bukan? Aku rasa demikian. Menurutmu bagaimana? Sepertinya kau juga sama.
Kau masih
ingat? Kita sering menghabiskan waktu bersama untuk makan mie ayam, makanan
kesukaan kita. Makanan yang murah, enak, dan banyak. Pokoknya, cocok banget deh
buat mahasiswa kayak kita. Setelah itu kita mampir ke mesjid, melaksanakan
kewajiban kita sebagai seorang Muslim. Kita sepertinya punya tempat favorit
yang sama, yaitu mesjid. Ya, sekali lagi kita punya begitu banyak kesamaan.
Kita lebih memilih untuk ngobrol sejenak, menceritakan kejadian-kejadian unik
di kampus, atau bahkan sekadar bercanda ria daripada pulang ke rumah
masing-masing. Kita telah mengunjungi banyak tempat bersama, kita juga telah
melakukan banyak hal bersama, yang tentunya sangat sulit untuk kulupa.
Aku juga
masih sangat ingat, saat kau membawakan bubur kacang ijo saat aku sakit, yang
kau tahu? Aku bahkan sangat menyukainya. Sepertinya kau sangat peduli padaku.
Kau juga selalu ada, bahkan saat keadaanku terpuruk sekalipun, kau tak pernah
pergi. Kau bahkan sering memotivasiku untuk tetap bertahan. Kau selalu berkata
bahwa kita adalah perempuan multitalent, kita
perempuan hebat, apapun bisa kita
lakukan. Ahh.. kawan, betapa kau sangat pintar dalam membangkitkan semangatku.
Hujan adalah
saat yang paling kau suka, bukan? Akupun demikian. Kita bahkan sering melakukan
hal-hal hebat bersama hujan. Kita menggunakan satu payung bersama, payung yang
ukurannya bahkan tidak memadai untuk kita gunakan bersama. Tapi, aku tak peduli
meski tetesan yang kucup deras itu mengguyur tubuhku. Sedikitpun tak ku peduli.
Lucunya, kita tak ingin kalah dengan merdunya suara hujan, kita masih tetap
bercanda ria, mengalahkan merdunya suara hujan. Masih bersama hujan.
Rasanya
begitu banyak kenangan-kenangan yang harus ku gali. Tapi, sepertinya aku tak
sanggup. Bulir-bulir air bening pun mulai berjatuhan. Sudah ku bilang, aku tak sanggup.
Aku hanya ingin memberitahu satu hal padamu, bahwa aku sangat merindukanmu.
Semoga Allah selalu menyayangimu. Untukmu, yang kucintai karena Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar