These are my works ^-^

Minggu, 30 November 2014

Segudang Rindu #EdisiKangenRumah

Ma, Aku Pulang!
Oleh : Selli T. Hsb



Ya, masih dengan hal yang sama dan terkesan itu-itu saja, aku masih memangku notebook slim ku yang baru beberapa bulan dibelikan oleh ayah tercinta. Maklum saja, aku tak punya meja belajar –belum sempat beli nya- atau lebih tepatnya belum punya uang. You know lah, anak kos memang gitu kan? Untuk beli meja belajar gak ada uang, tapi.. ya, memang karena gak ada uang kok. Mau dibilang apa lagi coba? Gak mungkin kan minta kirimin meja belajar dari kampung halaman yang ongkosnya itu lebih besar dari harga mejanya? Gubrak!

Masih juga dengan musik yang sama, edcoustic, yang selalu hadir dan gak pernah absen menemaniku melakukan hal-hal yang luar biasa –entah pantas atau nggak disebut seperti itu- sebagai upaya pencapaian sejuta asa. Kau tahu, musik mempunyai peran yang sangat penting dalam membangkitkan semangat untuk melakukan sesuatu. Bingung ya maksudnya apa? Sama, saya juga sepertinya begitu.

Malam ini aku bertekad kuat untuk menghasilkan sebuah karya yang bisa di post kan di blog ku. Blog yang sudah usang karena pemiliknya sedikit ‘sibuk’ dalam urusan tugas nya yang sudah menggunung. Maklum saja, akhir-akhir semester seperti ini memang rawan akan tugas yang bejibun. Sudah beberapa jam aku berkutat di depan notebook ku, namun entah apa yang ku ketik di kertas A4 putih ini, abstrak. Tapi aku masih memaksakan diri, aku harus mampu menghasilkan satu karya per malam. Yah, kalo nggak seperti ini, kapan mau nulisnya coba?

Ditengah pencarian ide, tiba-tiba musik instrumen salah satu drama korea, full house, berdering dengan kuatnya hingga mengalahkan musik yang sedari tadi kudengarkan dengan earphone melalui notebook ku. Suara itu berasal dari android putih kesayanganku, hasil barteran dengan ayah. Ternyata itu adalah panggilan dari seseorang yang paling ku rindu di kampung halaman, siapa lagi kalau bukan mama tercinta.

“Assalamu’alaikum, ma.” Sahutku dengan suara yang luar biasa riang. Bagaimana tidak, sudah hampir dua minggu beliau tidak me-nelfon ku. Bisa dibayangkan kan, betapa rindu ini sangat menggebu?
“Wa’alaikumussalam, nak. Apa kabar disana? Kapan pulangnya, nak?”

Ah, mama. Pasti beliau sudah sangat rindu dengan anak sulungnya yang merantau ke kota orang demi melanjutkan studi dan meraih jutaan mimpi.
“Alhamdulillah, sehat, ma. Mama, ayah dan adik-adik gimana ma? Sehat kan? Sabar ya ma, dua minggu lagi perkuliahannya udah selesai kok,” sahutku dengan nada yang sedikit mellow sambil berkata dalam hati “Tita juga rindu kok, ma. Rindu yang sangat luar biasa, mungkin lebih.”

Bisa dikatakan bahwa aku adalah anak rantau yang sering pulang, tapi untuk kali ini aku memutuskan untuk pulang setelah perkuliahan selesai. Padahal jarak Medan-Siantar tidaklah begitu jauh. Aku tak tahu alasan tepatnya apa. Tapi keputusan itu juga didukung oleh beberapa faktor eksternal. Tugas kuliah dan ujian ini-itu, contohnya.

“nanti kalau sudah selesai kuliahnya, langsung pulang ya, nak. Betul-betul belajarnya, nak. Terus berdo’a biar sukses ujiannya.”
“iya, ma, Aamiin.”
Sebenarnya aku merasakan sedikit keganjalan. Perasaan yang ‘tidak enak’ berkecamuk dalam hati ku. Kok mama nggak jawab kabar yang kutanyakan, ya? Ada apa sebenarnya ini? Mengapa feeling ku nggak enak?
Seketika aku mengetik beberapa kalimat yang kemudian kukirimkan ke nomor adik bungsu ku, layla.

“Assalamu’alaikum, dek, keluarga disana sehat?”
Segera ku klik tombol send dengan hati yang tak karuan. Aku galau menunggu balasan yang tak kunjung datang. Sampai akhirnya kira-kira 5 menit setelah pengiriman, nada sms masuk terdengar dari handphone ku.
“Wa’alaikumussalam. Mama sakit, kak. Seminggu yang lalu mama kecelakaan di serempet betor. Kemarin baru pulang dari rumah sakit, kak.”
Sontak saja aku tersentak bagai tersambar petir di tengah badai. Aku terdiam, butiran-butiran bening mulai mengalir deras membasahi pipi. Mama, inikah jawaban atas pertanyaan ku yang tidak engkau jawab? Sebuah tanda tanya besar menggeranyangi pikiranku.

Beberapa menit kemudian sms baru masuk, “kemarin mama bilang jangan kasih tahu kakak dulu, nanti kakak terganggu ujiannya. Kakak pulang lah, kasihan mama udah rindu kali sama kakak. Tapi jangan kasih tahu mama, ya, kalo layla yang ngabari kakak.”
Jantungku makin tak karuan, begitupun air mata yang tak mau kalah untuk mengeluarkan air mata sederas-derasnya. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil tas dan berkemas untuk pulang ke kampung halaman esok hari. Tak peduli esok aku harus menghadapi formative 4, intinya aku harus pulang. Ma, tunggu aku. Aku akan membawa obat atas segala rindu dan pengorbananmu.

Medan, 30 Nov. 14






1 komentar: