These are my works ^-^

Minggu, 28 Desember 2014

Resensi Novel



Resensi Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah
Oleh : Selli Tiolita Hasibuan


Judul Buku          : Di Bawah Lindungan Ka’bah
Penulis                 : Hamka
Penerbit                : PT. Bulan Bintang
Cetakan ke           : 25, Jumadil awal/Agustus 2001
Jumlah Halaman  : 80 halaman
Kategori                : Novel Sastra

Novel yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah ini adalah salah satu hasil karya dari Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, (lahir di Maninjau, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun). Beliau  merupakan sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik.

Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern. Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi atau abuya dalam bahasa Arab yang berarti ayahku atau seseorang yang dihormati.
Ayahnya adalah Haji Abdul Karim bin Amrullah, pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sementara ibunya adalah Siti Shafiyah Tanjung.

Hamka juga banyak menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya lain seperti novel dan cerpen. Pada tahun 1928, Hamka menulis buku romannya yang pertama dalam bahasa Minang dengan judul Si Sabariah. Kemudian, ia juga menulis buku-buku lain, baik yang berbentuk roman, sejarah, biografi dan otobiografi, sosial kemasyarakatan, pemikiran dan pendidikan, teologi, tasawuf, tafsir, dan fiqih. Karya ilmiah terbesarnya adalah Tafsir al-Azhar. Di antara novel-novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli juga menjadi perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura. Beberapa penghargaan dan anugerah juga ia terima, baik peringkat nasional maupun internasional.

Hamid dan Zainab adalah tokoh utama dalam novel ini. Hamid adalah seorang anak yatim. Ayahnya meninggal ketika ia masih berusia empat tahun. Ia tinggal bersama ibunya dalam keadaan melarat. Sementara Zainab adalah putri sematawayang dari keluarga kaya, Engku Haji Jaafar dan Mak Asiah.
Engku Haji Jaafar adalah seorang yang baik hati. Hamid disekolahkan bersama putrinya, Zainab. Hamid menganggap Zainab sebagai adik kandungnya sendiri. Setelah lulus dari sekolah rendah (H.I.S), mereka menduduki Mulo. Setelah tamat dari Mulo, Zainab tidak melanjut karena ia telah memasuki masa pingitan. Sementara Hamid masih disekolahkan oleh Haji Jaafar untuk melanjut studi ke Padang Panjang.

Saat itu Hamid telah menaruh rasa kepada Zainab. Namun Ia tak mampu untuk mengutarakannya. Ia sadar bahwasanya mereka bagaikan langit dan bumi yang tak mungkin untuk bersatu. Namun ternyata Zainab mempunyai rasa yang sama kepada Hamid.

Setelah beberapa lama kemudian, Haji Jaafar dipanggil oleh sang Maha Pencipta. Belum berapa lama Beliau meninggal, sang ibunda tercinta meninggal dunia. Betapa sedih hati Hamid.

Cobaan yang dialami Hamid tidak cukup sampai disitu. Mak Asiah, ibunda dari Zainab meminta Hamid untuk membujuk Zainab agar bersedia menikah dengan anak saudara Haji Jaafar. Betapa pilu hati Hamid ketika mendendengarkan permohonan Mak Asiyah. Ia tak sanggup untuk melakukannya. Betapa Ia sangat mencintai Zainab.

Ia akhirnya memutuskan untuk pergi dari Padang untuk membunuh segala perasaannya kepada Zainab. Setelah sampai di Medan, Ia membuat surat untuk Zainab, surat pertamanya. Dan melanjutkan perjalanannya ke tanah suci Mekkah.

Setelah setahun berada di Mekkah, Ia bertemu dengan Salleh, teman sekaligus sahabat Hamid dikampung. Istrinya, Rosnah, juga merupakan teman dekat Zainab. Ia memberitahukan bahwasanya Zainab juga mencintainya dan Ia tak jadi menikah dengan pemuda pilihan mamaknya. sekarang Ia sedang sakit-sakitan karena menanggung rindu kepada Hamid. Salleh pun mengirimkan surat kepada istrinya, Rosnah, tentang pertemuan mereka. Akhirnya Rosnah menyampaikan kepada Zainab bahwasanya Hamid akan pulang ke kampung halamannya setelah menunaikan ibadah Haji.

Zainab pun merasa gembira dan Ia kembali mengirim surat kepada Hamid. hamid pun semakin menggebu-gebu untuk pulang ke kampung halamannya. Itulah sebabnya Ia tetap memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah Haji walaupun dalam keadaan sakit.

Pada saat wukuf di Padang Arafah, kondisi tubuh Hamid semakin melemah. Pada saat itu pula, Salleh mendapat kabar bahwasanya Zainab telah meninggal. Hati Hamid sangat terpukul. Ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Ketika mereka selesai mengelilingi Ka’bah, Hamid minta diberhentikan di Kiswah dan berdo’a. “Ya Rabbi, Engkaulah Yang Maha Kuasa, kepada Engkaulah kami sekalian akan kembali”
Setelah itu suaranya tidak terdengar lagi. Ia telah dipanggil oleh Sang Maha Pencipta.

Kelebihan dari novel ini terletak pada ceritanya yang mampu membuat pembaca hanyut dan menitikkan air mata. Namun bahasa yang digunakan sulit untuk dipahami karena menggunakan bahasa Melayu.

Begitu banyak pesan yang terkandung dalam novel ini. Seperti berserah diri kepada Allah SWT, menaati kedua orangtua, dan kesabaran dalam menjalani hidup. Buku ini sangat baik dibaca oleh para remaja, dewasa bahkan orangtua, karena cerita ini memiliki pesan kehidupan yang sangat tinggi dan sangat religius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar