Sang Pelita Mimpi
Oleh
: Selli Tiolita Hasibuan
“Kenali dirimu, kenali kemampuan
lawanmu, maka kemenangan milikmu. Kuasai iklim dan medan pertempuran, maka
kemenanganmu akan lengkap.” Rangkaian kata yang memiliki tegangan berjuta-juta volt. Kalimat yang merupakan teori perang Sun Tzu itu cukup mampu membuat seisi kelas seolah
tersambar petir penyemangat. Kalimat yang terlontar dari seorang pelopor
strategi perang itu sontak membakar jiwa kami yang haus akan motivasi menjelang
hari peperangan yang akan tiba beberapa minggu lagi. Siswa semester akhir seperti kami seolah memiliki ratusan juta
kali lipat kekuatan untuk bisa meraih mimpi memasuki Perguruan Tinggi Negeri
(PTN).
Siang itu adalah minggu-minggu terakhir
bagi kami, kelas XII IPA, bertatap muka dengan beliau. Karena setelah itu kami
akan bertempur menghadapi Ujian Nasional dan menemukan nasib masing-masing.
Apakah melanjut kuliah atau tidak. Akankah
menjadi orang yang tetap tinggal di kampung melanjutkan rutinitas orangtua,
atau merantau ke kota orang demi sebuah mimpi.
Pak Musli, begitulah kami
memanggilnya. Beliau adalah salah satu guru yang cukup disegani di sekolah
kami. Bagaimana tidak, pengabdiannya untuk anak bangsa sudah hampir 32 tahun
pada tanggal 25 November mendatang. Ia juga merupakan sosok yang inspiratif dan
sangat akrab dengan siswanya. Lelaki yang akan menginjak kepala lima pada 23
Oktober depan tampaknya sangat menikmati profesinya sebagai seorang guru yang
memiliki andil besar dalam perubahan dunia. Cara beliau mengajar sepertinya menganut
prinsip Horrace Mann, yang mengasah keinginan belajar siswanya sebelum
memulai pelajaran.
“Jika anda tidak bergerak untuk
mulai membangun mimpi anda, seseorang justru akan mempekerjakan anda untuk
membantu membangun mimpi mereka. Oleh sebab itu, bermimpilah!” Pak Musli mulai
membakar semangat kami. Sejak saat itulah mimpiku dimulai. Mimpi untuk bisa
memasuki Perguruan Tinggi Negeri yang tersohor di pulau Jawa.
Institut Teknologi Bandung, tunggu aku!
***
“Sudahlah
nduk, kita ini bukan keluarga kaya.
Mana mungkin ayah dan ibu bisa menguliahkanmu. Lulus SMA saja sudah hebat, toh nduk.” Aku seolah ingin menjerit
sekuat-kuatnya, hatiku pedih. Aku juga ingin seperti teman-teman lain yang bisa
melanjutkan studinya ke universitas. Aku ingin mewujudkan mimpiku untuk pergi
ke Bandung merasakan manisnya bangku kuliah di ITB. Apa orang miskin seperti
kami dilarang untuk bermimpi? Apa orang yang tak punya seperti kami tak boleh
mengecap pendidikan yang lebih tinggi? Berjuta-juta pertanyaan muncul sebagai
bentuk penolakan terhadap kondisiku saat ini.
“Jangan
mimpi terlalu tinggi, toh nduk. Nanti
kamu jatuh, dan sakitnya itu ndak
ketulungan. Orang seperti kita hanya perlu bekerja keras dengan otot, bukan
dengan otak.” Ayah mengeluarkan dalil yang paling mujarab agar aku mau
menurutinya untuk berhenti bermimpi.
“Benar
kata ayahmu, nduk. Jalani saja
hidupmu apa adanya. Toh, nanti kamu
juga bakalan kawin, terus punya anak. Dan ujung-ujungnya kedapur juga toh?
Arrghhh!!
Nafasku sesak, wajahku memanas, dan sepertinya buliran air mata akan segera
tumpah. Rasanya aku mau melompat saja dari lantai 25 dan berteriak
sekuat-kuatnya. Apa salahku?! Mengapa untuk bermimpi pun aku tak boleh?
“Tapi
yah, mak, Pak Musli pernah bilang jangan takut untuk bermimpi. Ka..” belum
sempat aku menyelesaikan perkataanku, Ayah menyela dengan suara yang mulai
melemah.
“Maafkan
ayah, karena ndak bisa menguliahkanmu
nduk.”
Hanya
kalimat itu yang diucapkannya. Lantas ia beranjak pergi dari kursi tua
disamping jendela yang terbuka itu dengan wajah kecewa. Aku tahu benar, ayah
pasti merasa sangat bersalah karena tak mampu menguliahkanku.
***
Besok
adalah hari dimana peperangan akan dimulai. Dengan bersenjatakan pena dan
berbekal ilmu yang telah kuterima selama hampir tiga tahun inilah aku akan
bertarung dan bertatap muka dengan soal-soal yang siap menerkamku kapan saja.
Tapi sampai detik ke 59 pukul 23 malam ini aku masih terjaga, mataku masih
enggan terpejam. Soal-soal menyeramkan seolah menari-nari di kepalaku,
menggelantung di langit-langit kamarku, merayap dari kolong tempat tidurku, dan
menyelinap keluar dari balik selimutku. Ah, aku tidak bisa tidur! Aku bergegas
ke kamar mandi dan berwudhu’, semoga Allah melancarkan ujian esok. “Ayolah,
besok harus bangun lebih awal, jangan sampai telat.” Kataku sambil mencoba
membujuk mata untuk segera terpejam. Namun sepertinya pikiranku tak mau diajak
kompromi.
Rasanya
baru kemarin aku di antar ayah saat pertama kali memasuki SMA Negeri yang
namanya cukup famous di kampung
kami. Yang untuk bisa memasukinya, kau
harus bersedia mengikuti tes-tes yang tak mudah. Mulai dari tes Psikologi
sampai tes mental pun ikut meramaikan proses penyeleksian siswa baru. Ia
menatapku dengan wajah yang amat bangga. Mengapa tidak, dari sekian banyak
orangtua yang ingin anaknya lulus di SMA ini, ayahku adalah salah satu orangtua
pilihan.
Ayahku
harus menempuh kurang-lebih satu setengah jam perjalanan demi mengantarku ke
sekolah yang kadang bisa lebih lama jika motor butut ayah ngambek ditengah jalan. Dan esok, aku harus bertempur di medan
juang bersama puluhan soal Ujian Nasional. Setelah itu, akankah aku bisa
menapaki madu ilmu di universitas? Ah, kenapa waktu begitu cepat berputar?
***
“Selamat
kepada Dwi Larasati sebagai peringkat ke-2 tertinggi pada hasil Ujian Nasional
di SMA Negeri II Probolinggo. Kepada yang namanya telah disebutkan, silahkan
datang ke kantor kepala sekolah sekarang.” Suara yang terdengar dari microphone sekolah itu sontak saja
membuat jantungku nyaris copot. Aku bagai tersambar petir di siang bolong,
tubuhku bergetar. Dingin.
“Selamat
nak, orangtuamu pasti bangga dengan prestasimu.” kata Pak Musli dengan senyum
yang sangat bangga.
“Terimakasih,
Pak.” Sahutku dengan santun.
“Jadi
apa rencanamu selanjutnya, nak? Universitas mana yang akan kamu pilih?”
Sejenak
aku terdiam. Pikiranku kembali terbang pada suatu kondisi dimana aku tak punya
kemungkinan untuk bisa kuliah.
“Sepertinya
saya tidak akan melanjut ke universitas, Pak.” Jawabku dengan suara rendah dan
kepala menunduk.
“Kenapa
nak?” nada suaranya sedikit terkejut.
“Kami
bukanlah keluarga yang berpunya, Pak. Sepertinya saya harus mengubur mimpi untuk
mengenyam bangku kuliah.” Nada suaraku masih pelan. Apa yang ku ucapkan masih
bertentangan dengan kata hatiku.
“Jangan
pernah kamu mengubur mimpi itu, nak. Kalau masalahnya dari segi ekonomi, kamu
bisa mendaftar beasiswa. Kebetulan kemarin bapak dapat kabar ada beasiswa full di Nanyang University, Singapore. Bapak pikir kau bisa mengajukan
beasiswa itu, nak.”
Seketika
kepalaku yang tadinya tunduk membentuk sudut 30 derajat, kembali tegak
mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Pak Musli. Rasanya aku punya nyawa
dan semangat baru untuk menyambung kepingan mimpiku yang tadinya berserakan.
Wajahku masih tercengang tak percaya.
“Benarkah,
Pak?” kataku masih tak percaya.
“Iya,
nak. Ditambah lagi nilai Ujian Nasionalmu
yang mendukung. Kemampuanmu di bidang Bahasa Inggris pun menjadi salah
satu modal besarmu, nak. Sekolah akan merekomendasikan tiga siswa peraih nilai
UN tertinggi sebagai kandidat, dan salah satunya adalah kamu. Kamu pasti bisa
lulus dan menyemai kembali mimpi-mimpimu.
Tampaknya
aku punya mimpi baru, mimpi yang lebih spektakuler dari sebelumnya. Jika
mimpiku dulu adalah ITB, maka mimpiku sekarang adalah Nanyang University.
***
“Apalagi
toh, nduk. Kamu kok yang aneh-aneh saja. Wong
untuk kehidupan sehari-hari saja masih pas-pasan. Kok ngomong kuliah ke
luar negeri. Kemana tadi..?”
“Singapura,
yah.”
“Iya,
Singapura. Sudahlah, nduk. Jangan macem-macem.”
“Tapi,
yah. Laras dapat beasiswa untuk kuliah disana. Ayah ndak perlu ngeluarin biaya ini-itu lagi, yah.” Kataku meyakinkan
ayah.
“Beasiswa
apa toh?”
Hati
ayah sepertinya mulai terbujuk mendengar kata “Beasiswa.” Ya, bagi keluarga
pas-pasan seperti kami, apalagi yang diharapkan selain beasiswa.
“Kemarin
Pak Musli menawarkan beasiswa penuh ke Nanyang
University, yah. Jadi ayah ndak
perlu mikirin biaya apapun.”
“Ah, yang benar toh nduk? Apa ada yang seperti itu?” Ibu menyambung pertanyaan
ayah.
“Iya,
bu.” Jawabku yakin.
Ayah
dan Ibu menatapku tak percaya. Mata mereka mulai berkaca-kaca. Nampaknya itu
masih seperti mimpi bagi mereka karena anaknya bisa melanjutkan bangku
pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Mengingat pekerjaan mereka adalah
bertani yang menggantungkan hidup hanya pada sepetak sawah.
“Alhamdulillah,
Gusti Allah. Alhamdulillah.” Mereka tak henti-hentinya mengucapkan syukur pada
yang Maha Kuasa. Inilah awal kesuksesanku. Ridha
orangtua telah ku raih.
Kini
mimpi itu tampak begitu jelas di pelupuk mataku dan bukan hanya sekadar
fatamorgana belaka. Allah telah memeluk mimpiku. Mimpi yang kuselipkan di tiap
sepertiga malam. Mimpi yang diijabah Sang
Maha Kuasa melalui tangan Pak Musli, sosok motivator yang telah membimbingku menapaki Universitas
ternama di Singapura. Nanyang University,
I’m coming!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar