Ma,
Aku Pulang!
Oleh
: Selli T. Hsb
Ya,
masih dengan hal yang sama dan terkesan itu-itu saja, aku masih memangku
notebook slim ku yang baru beberapa bulan dibelikan oleh ayah tercinta. Maklum
saja, aku tak punya meja belajar –belum sempat beli nya- atau lebih tepatnya
belum punya uang. You know lah, anak
kos memang gitu kan? Untuk beli meja belajar gak ada uang, tapi.. ya, memang
karena gak ada uang kok. Mau dibilang apa lagi coba? Gak mungkin kan minta
kirimin meja belajar dari kampung halaman yang ongkosnya itu lebih besar dari
harga mejanya? Gubrak!
Masih
juga dengan musik yang sama, edcoustic, yang selalu hadir dan gak pernah absen
menemaniku melakukan hal-hal yang luar biasa –entah pantas atau nggak disebut
seperti itu- sebagai upaya pencapaian sejuta asa. Kau tahu, musik mempunyai
peran yang sangat penting dalam membangkitkan semangat untuk melakukan sesuatu.
Bingung ya maksudnya apa? Sama, saya juga sepertinya begitu.
Malam
ini aku bertekad kuat untuk menghasilkan sebuah karya yang bisa di post kan di blog ku. Blog yang sudah
usang karena pemiliknya sedikit ‘sibuk’ dalam urusan tugas nya yang sudah
menggunung. Maklum saja, akhir-akhir semester seperti ini memang rawan akan
tugas yang bejibun. Sudah beberapa jam aku berkutat di depan notebook ku, namun
entah apa yang ku ketik di kertas A4 putih ini, abstrak. Tapi aku masih
memaksakan diri, aku harus mampu menghasilkan satu karya per malam. Yah, kalo
nggak seperti ini, kapan mau nulisnya coba?
Ditengah
pencarian ide, tiba-tiba musik instrumen salah satu drama korea, full house, berdering dengan kuatnya hingga
mengalahkan musik yang sedari tadi kudengarkan dengan earphone melalui notebook
ku. Suara itu berasal dari android putih kesayanganku, hasil barteran dengan
ayah. Ternyata itu adalah panggilan dari seseorang yang paling ku rindu di
kampung halaman, siapa lagi kalau bukan mama tercinta.
“Assalamu’alaikum,
ma.” Sahutku dengan suara yang luar biasa riang. Bagaimana tidak, sudah hampir
dua minggu beliau tidak me-nelfon ku. Bisa dibayangkan kan, betapa rindu ini
sangat menggebu?
“Wa’alaikumussalam,
nak. Apa kabar disana? Kapan pulangnya, nak?”
Ah,
mama. Pasti beliau sudah sangat rindu dengan anak sulungnya yang merantau ke
kota orang demi melanjutkan studi dan meraih jutaan mimpi.
“Alhamdulillah,
sehat, ma. Mama, ayah dan adik-adik gimana ma? Sehat kan? Sabar ya ma, dua
minggu lagi perkuliahannya udah selesai kok,” sahutku dengan nada yang sedikit mellow sambil berkata dalam hati “Tita
juga rindu kok, ma. Rindu yang sangat luar biasa, mungkin lebih.”
Bisa
dikatakan bahwa aku adalah anak rantau yang sering pulang, tapi untuk kali ini
aku memutuskan untuk pulang setelah perkuliahan selesai. Padahal jarak
Medan-Siantar tidaklah begitu jauh. Aku tak tahu alasan tepatnya apa. Tapi
keputusan itu juga didukung oleh beberapa faktor eksternal. Tugas kuliah dan
ujian ini-itu, contohnya.
“nanti
kalau sudah selesai kuliahnya, langsung pulang ya, nak. Betul-betul belajarnya,
nak. Terus berdo’a biar sukses ujiannya.”
“iya,
ma, Aamiin.”
Sebenarnya
aku merasakan sedikit keganjalan. Perasaan yang ‘tidak enak’ berkecamuk dalam
hati ku. Kok mama nggak jawab kabar yang kutanyakan, ya? Ada apa sebenarnya
ini? Mengapa feeling ku nggak enak?
Seketika
aku mengetik beberapa kalimat yang kemudian kukirimkan ke nomor adik bungsu ku,
layla.
“Assalamu’alaikum,
dek, keluarga disana sehat?”
Segera
ku klik tombol send dengan hati yang
tak karuan. Aku galau menunggu balasan yang tak kunjung datang. Sampai akhirnya
kira-kira 5 menit setelah pengiriman, nada sms masuk terdengar dari handphone ku.
“Wa’alaikumussalam.
Mama sakit, kak. Seminggu yang lalu mama kecelakaan di serempet betor. Kemarin
baru pulang dari rumah sakit, kak.”
Sontak
saja aku tersentak bagai tersambar petir di tengah badai. Aku terdiam,
butiran-butiran bening mulai mengalir deras membasahi pipi. Mama, inikah
jawaban atas pertanyaan ku yang tidak engkau jawab? Sebuah tanda tanya besar menggeranyangi
pikiranku.
Beberapa
menit kemudian sms baru masuk, “kemarin mama bilang jangan kasih tahu kakak
dulu, nanti kakak terganggu ujiannya. Kakak pulang lah, kasihan mama udah rindu
kali sama kakak. Tapi jangan kasih tahu mama, ya, kalo layla yang ngabari kakak.”
Jantungku
makin tak karuan, begitupun air mata yang tak mau kalah untuk mengeluarkan air
mata sederas-derasnya. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil tas dan
berkemas untuk pulang ke kampung halaman esok hari. Tak peduli esok aku harus
menghadapi formative 4, intinya aku harus pulang. Ma, tunggu aku. Aku akan
membawa obat atas segala rindu dan pengorbananmu.
Medan,
30 Nov. 14

