These are my works ^-^

Minggu, 28 Desember 2014

Antara Aku, Ilalang dan Sereh



Antara Aku, Ilalang, dan Sereh
By : Selli Tiolita Hasibuan


Aku telah lama jatuh cinta pada ilalang. Kau tahu, sudah hampir tiga tahun aku mengaguminya. Namun, betapa aku sangat takut untuk menjamahnya. Bersebabkan pinggiran daunnya yang tajam, membuatku takut kalau-kalau tanganku tersayat dan berdarah. Jangankan menjamahnya, untuk sekadar dekat pun, aku merasa was-was. Takut, kalau saja angin meniupnya dan menyayat kulitku. Pedih.
Usahlah aku mendekat dan menjamahnya, melihatnya dari kejauhan pasti lebih indah dan lebih baik. Jika tak mampu juga aku melihatnya dari kejauhan, tak apalah, biar aku hanya melihat gambarnya dan memajangnya di dinding kamar.
Namun apalah daya bila aku masih tak mampu untuk melihat gambarnya, bersebabkan aku takut kalau-kalau gambar itu menjelma menjadi nyata dan menyayat luka yang bernanah. Perih.
Oleh sebab itu, biarlah ku rekam bayangnya dalam memori ingatan imajinasiku.
Namun hari ini, aku bertemu dengan sereh. Kau tahu sereh? Ia sangat mirip dengan ilalang. Kau pasti tahu kan? Dan aku jatuh cinta padanya. Aku tak tahu mengapa aku begitu menyukainya. Mungkinkah karena harumnya? Atau karena ia sangat mirip dengan ilalang? atau mungkin benar, karena wangi nya yang memesona. Daunnya pun tak setajam ilalang. Tampaknya ia lebih bersahaja dan ramah.
Tapi aku masih memiliki ketakutan yang sama seperti sebelumnya. Takut kalau ternyata pinggiran daunnya akan ber-evolusi dan semakin tajam melebihi ilalang.

Resensi Novel



Resensi Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah
Oleh : Selli Tiolita Hasibuan


Judul Buku          : Di Bawah Lindungan Ka’bah
Penulis                 : Hamka
Penerbit                : PT. Bulan Bintang
Cetakan ke           : 25, Jumadil awal/Agustus 2001
Jumlah Halaman  : 80 halaman
Kategori                : Novel Sastra

Novel yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah ini adalah salah satu hasil karya dari Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, (lahir di Maninjau, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun). Beliau  merupakan sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik.

Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern. Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi atau abuya dalam bahasa Arab yang berarti ayahku atau seseorang yang dihormati.
Ayahnya adalah Haji Abdul Karim bin Amrullah, pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sementara ibunya adalah Siti Shafiyah Tanjung.

Hamka juga banyak menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya lain seperti novel dan cerpen. Pada tahun 1928, Hamka menulis buku romannya yang pertama dalam bahasa Minang dengan judul Si Sabariah. Kemudian, ia juga menulis buku-buku lain, baik yang berbentuk roman, sejarah, biografi dan otobiografi, sosial kemasyarakatan, pemikiran dan pendidikan, teologi, tasawuf, tafsir, dan fiqih. Karya ilmiah terbesarnya adalah Tafsir al-Azhar. Di antara novel-novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli juga menjadi perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura. Beberapa penghargaan dan anugerah juga ia terima, baik peringkat nasional maupun internasional.

Hamid dan Zainab adalah tokoh utama dalam novel ini. Hamid adalah seorang anak yatim. Ayahnya meninggal ketika ia masih berusia empat tahun. Ia tinggal bersama ibunya dalam keadaan melarat. Sementara Zainab adalah putri sematawayang dari keluarga kaya, Engku Haji Jaafar dan Mak Asiah.
Engku Haji Jaafar adalah seorang yang baik hati. Hamid disekolahkan bersama putrinya, Zainab. Hamid menganggap Zainab sebagai adik kandungnya sendiri. Setelah lulus dari sekolah rendah (H.I.S), mereka menduduki Mulo. Setelah tamat dari Mulo, Zainab tidak melanjut karena ia telah memasuki masa pingitan. Sementara Hamid masih disekolahkan oleh Haji Jaafar untuk melanjut studi ke Padang Panjang.

Saat itu Hamid telah menaruh rasa kepada Zainab. Namun Ia tak mampu untuk mengutarakannya. Ia sadar bahwasanya mereka bagaikan langit dan bumi yang tak mungkin untuk bersatu. Namun ternyata Zainab mempunyai rasa yang sama kepada Hamid.

Setelah beberapa lama kemudian, Haji Jaafar dipanggil oleh sang Maha Pencipta. Belum berapa lama Beliau meninggal, sang ibunda tercinta meninggal dunia. Betapa sedih hati Hamid.

Cobaan yang dialami Hamid tidak cukup sampai disitu. Mak Asiah, ibunda dari Zainab meminta Hamid untuk membujuk Zainab agar bersedia menikah dengan anak saudara Haji Jaafar. Betapa pilu hati Hamid ketika mendendengarkan permohonan Mak Asiyah. Ia tak sanggup untuk melakukannya. Betapa Ia sangat mencintai Zainab.

Ia akhirnya memutuskan untuk pergi dari Padang untuk membunuh segala perasaannya kepada Zainab. Setelah sampai di Medan, Ia membuat surat untuk Zainab, surat pertamanya. Dan melanjutkan perjalanannya ke tanah suci Mekkah.

Setelah setahun berada di Mekkah, Ia bertemu dengan Salleh, teman sekaligus sahabat Hamid dikampung. Istrinya, Rosnah, juga merupakan teman dekat Zainab. Ia memberitahukan bahwasanya Zainab juga mencintainya dan Ia tak jadi menikah dengan pemuda pilihan mamaknya. sekarang Ia sedang sakit-sakitan karena menanggung rindu kepada Hamid. Salleh pun mengirimkan surat kepada istrinya, Rosnah, tentang pertemuan mereka. Akhirnya Rosnah menyampaikan kepada Zainab bahwasanya Hamid akan pulang ke kampung halamannya setelah menunaikan ibadah Haji.

Zainab pun merasa gembira dan Ia kembali mengirim surat kepada Hamid. hamid pun semakin menggebu-gebu untuk pulang ke kampung halamannya. Itulah sebabnya Ia tetap memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah Haji walaupun dalam keadaan sakit.

Pada saat wukuf di Padang Arafah, kondisi tubuh Hamid semakin melemah. Pada saat itu pula, Salleh mendapat kabar bahwasanya Zainab telah meninggal. Hati Hamid sangat terpukul. Ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Ketika mereka selesai mengelilingi Ka’bah, Hamid minta diberhentikan di Kiswah dan berdo’a. “Ya Rabbi, Engkaulah Yang Maha Kuasa, kepada Engkaulah kami sekalian akan kembali”
Setelah itu suaranya tidak terdengar lagi. Ia telah dipanggil oleh Sang Maha Pencipta.

Kelebihan dari novel ini terletak pada ceritanya yang mampu membuat pembaca hanyut dan menitikkan air mata. Namun bahasa yang digunakan sulit untuk dipahami karena menggunakan bahasa Melayu.

Begitu banyak pesan yang terkandung dalam novel ini. Seperti berserah diri kepada Allah SWT, menaati kedua orangtua, dan kesabaran dalam menjalani hidup. Buku ini sangat baik dibaca oleh para remaja, dewasa bahkan orangtua, karena cerita ini memiliki pesan kehidupan yang sangat tinggi dan sangat religius.

Rabu, 03 Desember 2014

I Call it "Rain"

Rain
By : Selli T. Hsb


You’ll feel that they feel what you feel
Because it’s crying when you cry
It also can return all of your memories
Sad, happy, crazy, odd, or maybe pain
Then throw you on the deepest gorge

Do you love it? I say, “yes”
it can be such a happy moment
that loved by many creatures
but sometimes it can be an unhappy moment
that hated by some creatures

ohh.. can i guess what it means?
If waiting its coming is such a bored thing
But it can be inundate my soul while it comes
That muffle the fire becomes gray fumes
But it can not freeze the water becomes ice




Medan, December 04, 2014

Minggu, 30 November 2014

Segudang Rindu #EdisiKangenRumah

Ma, Aku Pulang!
Oleh : Selli T. Hsb



Ya, masih dengan hal yang sama dan terkesan itu-itu saja, aku masih memangku notebook slim ku yang baru beberapa bulan dibelikan oleh ayah tercinta. Maklum saja, aku tak punya meja belajar –belum sempat beli nya- atau lebih tepatnya belum punya uang. You know lah, anak kos memang gitu kan? Untuk beli meja belajar gak ada uang, tapi.. ya, memang karena gak ada uang kok. Mau dibilang apa lagi coba? Gak mungkin kan minta kirimin meja belajar dari kampung halaman yang ongkosnya itu lebih besar dari harga mejanya? Gubrak!

Masih juga dengan musik yang sama, edcoustic, yang selalu hadir dan gak pernah absen menemaniku melakukan hal-hal yang luar biasa –entah pantas atau nggak disebut seperti itu- sebagai upaya pencapaian sejuta asa. Kau tahu, musik mempunyai peran yang sangat penting dalam membangkitkan semangat untuk melakukan sesuatu. Bingung ya maksudnya apa? Sama, saya juga sepertinya begitu.

Malam ini aku bertekad kuat untuk menghasilkan sebuah karya yang bisa di post kan di blog ku. Blog yang sudah usang karena pemiliknya sedikit ‘sibuk’ dalam urusan tugas nya yang sudah menggunung. Maklum saja, akhir-akhir semester seperti ini memang rawan akan tugas yang bejibun. Sudah beberapa jam aku berkutat di depan notebook ku, namun entah apa yang ku ketik di kertas A4 putih ini, abstrak. Tapi aku masih memaksakan diri, aku harus mampu menghasilkan satu karya per malam. Yah, kalo nggak seperti ini, kapan mau nulisnya coba?

Ditengah pencarian ide, tiba-tiba musik instrumen salah satu drama korea, full house, berdering dengan kuatnya hingga mengalahkan musik yang sedari tadi kudengarkan dengan earphone melalui notebook ku. Suara itu berasal dari android putih kesayanganku, hasil barteran dengan ayah. Ternyata itu adalah panggilan dari seseorang yang paling ku rindu di kampung halaman, siapa lagi kalau bukan mama tercinta.

“Assalamu’alaikum, ma.” Sahutku dengan suara yang luar biasa riang. Bagaimana tidak, sudah hampir dua minggu beliau tidak me-nelfon ku. Bisa dibayangkan kan, betapa rindu ini sangat menggebu?
“Wa’alaikumussalam, nak. Apa kabar disana? Kapan pulangnya, nak?”

Ah, mama. Pasti beliau sudah sangat rindu dengan anak sulungnya yang merantau ke kota orang demi melanjutkan studi dan meraih jutaan mimpi.
“Alhamdulillah, sehat, ma. Mama, ayah dan adik-adik gimana ma? Sehat kan? Sabar ya ma, dua minggu lagi perkuliahannya udah selesai kok,” sahutku dengan nada yang sedikit mellow sambil berkata dalam hati “Tita juga rindu kok, ma. Rindu yang sangat luar biasa, mungkin lebih.”

Bisa dikatakan bahwa aku adalah anak rantau yang sering pulang, tapi untuk kali ini aku memutuskan untuk pulang setelah perkuliahan selesai. Padahal jarak Medan-Siantar tidaklah begitu jauh. Aku tak tahu alasan tepatnya apa. Tapi keputusan itu juga didukung oleh beberapa faktor eksternal. Tugas kuliah dan ujian ini-itu, contohnya.

“nanti kalau sudah selesai kuliahnya, langsung pulang ya, nak. Betul-betul belajarnya, nak. Terus berdo’a biar sukses ujiannya.”
“iya, ma, Aamiin.”
Sebenarnya aku merasakan sedikit keganjalan. Perasaan yang ‘tidak enak’ berkecamuk dalam hati ku. Kok mama nggak jawab kabar yang kutanyakan, ya? Ada apa sebenarnya ini? Mengapa feeling ku nggak enak?
Seketika aku mengetik beberapa kalimat yang kemudian kukirimkan ke nomor adik bungsu ku, layla.

“Assalamu’alaikum, dek, keluarga disana sehat?”
Segera ku klik tombol send dengan hati yang tak karuan. Aku galau menunggu balasan yang tak kunjung datang. Sampai akhirnya kira-kira 5 menit setelah pengiriman, nada sms masuk terdengar dari handphone ku.
“Wa’alaikumussalam. Mama sakit, kak. Seminggu yang lalu mama kecelakaan di serempet betor. Kemarin baru pulang dari rumah sakit, kak.”
Sontak saja aku tersentak bagai tersambar petir di tengah badai. Aku terdiam, butiran-butiran bening mulai mengalir deras membasahi pipi. Mama, inikah jawaban atas pertanyaan ku yang tidak engkau jawab? Sebuah tanda tanya besar menggeranyangi pikiranku.

Beberapa menit kemudian sms baru masuk, “kemarin mama bilang jangan kasih tahu kakak dulu, nanti kakak terganggu ujiannya. Kakak pulang lah, kasihan mama udah rindu kali sama kakak. Tapi jangan kasih tahu mama, ya, kalo layla yang ngabari kakak.”
Jantungku makin tak karuan, begitupun air mata yang tak mau kalah untuk mengeluarkan air mata sederas-derasnya. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil tas dan berkemas untuk pulang ke kampung halaman esok hari. Tak peduli esok aku harus menghadapi formative 4, intinya aku harus pulang. Ma, tunggu aku. Aku akan membawa obat atas segala rindu dan pengorbananmu.

Medan, 30 Nov. 14






Kamis, 27 November 2014

Could I ?? #IntertiaMoveOn



Could I ???
By : Selli T. Hasibuan



Could i still lean on my allegiance?
Waiting in the mire of your uncertainty when it seems like no hope anymore
When your shadows got closer, but when i turn back it became invisible
And  i’ve realized from my day dreaming, such a constricted nightmare

No, it’s not the mistakes of the trees to let their leaves fall
It’s not the sins of the wind to make them fall off
But, yes.. that’s God’s planning in every blast of wind
And how much leaves that have fallen must be the right planned one.

But, why i can still hear your voice in disguise
The soft whisper that asks me to stay in this position, the ambiguous place
The place that i’ve been too long time in there
So please... don’t you think that it’s too hard to believe??






Rabu, 05 November 2014

Dream Lighter


Sang Pelita Mimpi 
 Oleh : Selli Tiolita Hasibuan

“Kenali dirimu, kenali kemampuan lawanmu, maka kemenangan milikmu. Kuasai iklim dan medan pertempuran, maka kemenanganmu akan lengkap.” Rangkaian kata yang memiliki tegangan berjuta-juta volt. Kalimat yang merupakan teori perang Sun Tzu itu cukup mampu membuat seisi kelas seolah tersambar petir penyemangat. Kalimat yang terlontar dari seorang pelopor strategi perang itu sontak membakar jiwa kami yang haus akan motivasi menjelang hari peperangan yang akan tiba beberapa minggu lagi. Siswa semester akhir  seperti kami seolah memiliki ratusan juta kali lipat kekuatan untuk bisa meraih mimpi memasuki Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Siang itu adalah minggu-minggu terakhir bagi kami, kelas XII IPA, bertatap muka dengan beliau. Karena setelah itu kami akan bertempur menghadapi Ujian Nasional dan menemukan nasib masing-masing. Apakah melanjut  kuliah atau tidak. Akankah menjadi orang yang tetap tinggal di kampung melanjutkan rutinitas orangtua, atau merantau ke kota orang demi sebuah mimpi.
Pak Musli, begitulah kami memanggilnya. Beliau adalah salah satu guru yang cukup disegani di sekolah kami. Bagaimana tidak, pengabdiannya untuk anak bangsa sudah hampir 32 tahun pada tanggal 25 November mendatang. Ia juga merupakan sosok yang inspiratif dan sangat akrab dengan siswanya. Lelaki yang akan menginjak kepala lima pada 23 Oktober depan tampaknya sangat menikmati profesinya sebagai seorang guru yang memiliki andil besar dalam perubahan dunia. Cara beliau mengajar sepertinya menganut prinsip Horrace Mann, yang mengasah keinginan belajar siswanya sebelum memulai pelajaran.
“Jika anda tidak bergerak untuk mulai membangun mimpi anda, seseorang justru akan mempekerjakan anda untuk membantu membangun mimpi mereka. Oleh sebab itu, bermimpilah!” Pak Musli mulai membakar semangat kami. Sejak saat itulah mimpiku dimulai. Mimpi untuk bisa memasuki Perguruan Tinggi Negeri yang tersohor di pulau Jawa. Institut Teknologi Bandung, tunggu aku!
***
“Sudahlah nduk, kita ini bukan keluarga kaya. Mana mungkin ayah dan ibu bisa menguliahkanmu. Lulus SMA saja sudah hebat, toh nduk.” Aku seolah ingin menjerit sekuat-kuatnya, hatiku pedih. Aku juga ingin seperti teman-teman lain yang bisa melanjutkan studinya ke universitas. Aku ingin mewujudkan mimpiku untuk pergi ke Bandung merasakan manisnya bangku kuliah di ITB. Apa orang miskin seperti kami dilarang untuk bermimpi? Apa orang yang tak punya seperti kami tak boleh mengecap pendidikan yang lebih tinggi? Berjuta-juta pertanyaan muncul sebagai bentuk penolakan terhadap kondisiku saat ini.
“Jangan mimpi terlalu tinggi, toh nduk. Nanti kamu jatuh, dan sakitnya itu ndak ketulungan. Orang seperti kita hanya perlu bekerja keras dengan otot, bukan dengan otak.” Ayah mengeluarkan dalil yang paling mujarab agar aku mau menurutinya untuk berhenti bermimpi.
“Benar kata ayahmu, nduk. Jalani saja hidupmu apa adanya. Toh, nanti kamu juga bakalan kawin, terus punya anak. Dan ujung-ujungnya kedapur juga toh?
Arrghhh!! Nafasku sesak, wajahku memanas, dan sepertinya buliran air mata akan segera tumpah. Rasanya aku mau melompat saja dari lantai 25 dan berteriak sekuat-kuatnya. Apa salahku?! Mengapa untuk bermimpi pun aku tak boleh?
“Tapi yah, mak, Pak Musli pernah bilang jangan takut untuk bermimpi. Ka..” belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, Ayah menyela dengan suara yang mulai melemah.
“Maafkan ayah, karena ndak bisa menguliahkanmu nduk.”
Hanya kalimat itu yang diucapkannya. Lantas ia beranjak pergi dari kursi tua disamping jendela yang terbuka itu dengan wajah kecewa. Aku tahu benar, ayah pasti merasa sangat bersalah karena tak mampu menguliahkanku.
***
Besok adalah hari dimana peperangan akan dimulai. Dengan bersenjatakan pena dan berbekal ilmu yang telah kuterima selama hampir tiga tahun inilah aku akan bertarung dan bertatap muka dengan soal-soal yang siap menerkamku kapan saja. Tapi sampai detik ke 59 pukul 23 malam ini aku masih terjaga, mataku masih enggan terpejam. Soal-soal menyeramkan seolah menari-nari di kepalaku, menggelantung di langit-langit kamarku, merayap dari kolong tempat tidurku, dan menyelinap keluar dari balik selimutku. Ah, aku tidak bisa tidur! Aku bergegas ke kamar mandi dan berwudhu’, semoga Allah melancarkan ujian esok. “Ayolah, besok harus bangun lebih awal, jangan sampai telat.” Kataku sambil mencoba membujuk mata untuk segera terpejam. Namun sepertinya pikiranku tak mau diajak kompromi.
Rasanya baru kemarin aku di antar ayah saat pertama kali memasuki SMA Negeri yang namanya cukup famous di kampung kami.  Yang untuk bisa memasukinya, kau harus bersedia mengikuti tes-tes yang tak mudah. Mulai dari tes Psikologi sampai tes mental pun ikut meramaikan proses penyeleksian siswa baru. Ia menatapku dengan wajah yang amat bangga. Mengapa tidak, dari sekian banyak orangtua yang ingin anaknya lulus di SMA ini, ayahku adalah salah satu orangtua pilihan.
Ayahku harus menempuh kurang-lebih satu setengah jam perjalanan demi mengantarku ke sekolah yang kadang bisa lebih lama jika motor butut ayah ngambek ditengah jalan. Dan esok, aku harus bertempur di medan juang bersama puluhan soal Ujian Nasional. Setelah itu, akankah aku bisa menapaki madu ilmu di universitas? Ah, kenapa waktu begitu cepat berputar?
***
“Selamat kepada Dwi Larasati sebagai peringkat ke-2 tertinggi pada hasil Ujian Nasional di SMA Negeri II Probolinggo. Kepada yang namanya telah disebutkan, silahkan datang ke kantor kepala sekolah sekarang.” Suara yang terdengar dari microphone sekolah itu sontak saja membuat jantungku nyaris copot. Aku bagai tersambar petir di siang bolong, tubuhku bergetar. Dingin.
“Selamat nak, orangtuamu pasti bangga dengan prestasimu.” kata Pak Musli dengan senyum yang sangat bangga.
“Terimakasih, Pak.” Sahutku dengan santun.
“Jadi apa rencanamu selanjutnya, nak? Universitas mana yang akan kamu pilih?”
Sejenak aku terdiam. Pikiranku kembali terbang pada suatu kondisi dimana aku tak punya kemungkinan untuk bisa kuliah.
“Sepertinya saya tidak akan melanjut ke universitas, Pak.” Jawabku dengan suara rendah dan kepala menunduk.
“Kenapa nak?” nada suaranya sedikit terkejut.
“Kami bukanlah keluarga yang berpunya, Pak. Sepertinya saya harus mengubur mimpi untuk mengenyam bangku kuliah.” Nada suaraku masih pelan. Apa yang ku ucapkan masih bertentangan dengan kata hatiku.
“Jangan pernah kamu mengubur mimpi itu, nak. Kalau masalahnya dari segi ekonomi, kamu bisa mendaftar beasiswa. Kebetulan kemarin bapak dapat kabar ada beasiswa full di Nanyang University, Singapore. Bapak pikir kau bisa mengajukan beasiswa itu, nak.”
Seketika kepalaku yang tadinya tunduk membentuk sudut 30 derajat, kembali tegak mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Pak Musli. Rasanya aku punya nyawa dan semangat baru untuk menyambung kepingan mimpiku yang tadinya berserakan. Wajahku masih tercengang tak percaya.
“Benarkah, Pak?” kataku masih tak percaya.
“Iya, nak. Ditambah lagi nilai Ujian Nasionalmu  yang mendukung. Kemampuanmu di bidang Bahasa Inggris pun menjadi salah satu modal besarmu, nak. Sekolah akan merekomendasikan tiga siswa peraih nilai UN tertinggi sebagai kandidat, dan salah satunya adalah kamu. Kamu pasti bisa lulus dan menyemai kembali mimpi-mimpimu.
Tampaknya aku punya mimpi baru, mimpi yang lebih spektakuler dari sebelumnya. Jika mimpiku dulu adalah ITB, maka mimpiku sekarang adalah Nanyang University.
***
“Apalagi toh, nduk. Kamu kok yang aneh-aneh saja. Wong untuk kehidupan sehari-hari saja masih pas-pasan. Kok ngomong kuliah ke luar negeri. Kemana tadi..?”
“Singapura, yah.”
“Iya, Singapura. Sudahlah, nduk. Jangan macem-macem.”
“Tapi, yah. Laras dapat beasiswa untuk kuliah disana. Ayah ndak perlu ngeluarin biaya ini-itu lagi, yah.” Kataku meyakinkan ayah.
“Beasiswa apa toh?
Hati ayah sepertinya mulai terbujuk mendengar kata “Beasiswa.” Ya, bagi keluarga pas-pasan seperti kami, apalagi yang diharapkan selain beasiswa.
“Kemarin Pak Musli menawarkan beasiswa penuh ke Nanyang University, yah. Jadi ayah ndak perlu mikirin biaya apapun.”
Ah, yang benar toh nduk? Apa ada yang seperti itu?” Ibu menyambung pertanyaan ayah.
“Iya, bu.” Jawabku yakin.
Ayah dan Ibu menatapku tak percaya. Mata mereka mulai berkaca-kaca. Nampaknya itu masih seperti mimpi bagi mereka karena anaknya bisa melanjutkan bangku pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Mengingat pekerjaan mereka adalah bertani yang menggantungkan hidup hanya pada sepetak sawah.
“Alhamdulillah, Gusti Allah. Alhamdulillah.” Mereka tak henti-hentinya mengucapkan syukur pada yang Maha Kuasa. Inilah awal kesuksesanku. Ridha orangtua telah ku raih.
Kini mimpi itu tampak begitu jelas di pelupuk mataku dan bukan hanya sekadar fatamorgana belaka. Allah telah memeluk mimpiku. Mimpi yang kuselipkan di tiap sepertiga malam. Mimpi yang diijabah Sang Maha Kuasa melalui tangan Pak Musli, sosok motivator  yang telah membimbingku menapaki Universitas ternama di Singapura. Nanyang University, I’m coming!