Antara
Aku, Ilalang, dan Sereh
By
: Selli Tiolita Hasibuan
Aku
telah lama jatuh cinta pada ilalang. Kau tahu, sudah hampir tiga tahun aku
mengaguminya. Namun, betapa aku sangat takut untuk menjamahnya. Bersebabkan
pinggiran daunnya yang tajam, membuatku takut kalau-kalau tanganku tersayat dan
berdarah. Jangankan menjamahnya, untuk sekadar dekat pun, aku merasa was-was.
Takut, kalau saja angin meniupnya dan menyayat kulitku. Pedih.
Usahlah
aku mendekat dan menjamahnya, melihatnya dari kejauhan pasti lebih indah dan
lebih baik. Jika tak mampu juga aku melihatnya dari kejauhan, tak apalah, biar
aku hanya melihat gambarnya dan memajangnya di dinding kamar.
Namun
apalah daya bila aku masih tak mampu untuk melihat gambarnya, bersebabkan aku
takut kalau-kalau gambar itu menjelma menjadi nyata dan menyayat luka yang
bernanah. Perih.
Oleh
sebab itu, biarlah ku rekam bayangnya dalam memori ingatan imajinasiku.
Namun
hari ini, aku bertemu dengan sereh. Kau tahu sereh? Ia sangat mirip dengan
ilalang. Kau pasti tahu kan? Dan aku jatuh cinta padanya. Aku tak tahu mengapa
aku begitu menyukainya. Mungkinkah karena harumnya? Atau karena ia sangat mirip
dengan ilalang? atau mungkin benar, karena wangi nya yang memesona. Daunnya pun
tak setajam ilalang. Tampaknya ia lebih bersahaja dan ramah.
Tapi
aku masih memiliki ketakutan yang sama seperti sebelumnya. Takut kalau ternyata
pinggiran daunnya akan ber-evolusi dan semakin tajam melebihi ilalang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar