Resensi Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah
Oleh : Selli Tiolita Hasibuan
Judul
Buku : Di Bawah
Lindungan Ka’bah
Penulis : Hamka
Penerbit : PT. Bulan Bintang
Cetakan
ke : 25, Jumadil awal/Agustus
2001
Jumlah
Halaman : 80 halaman
Kategori : Novel Sastra
Novel yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah ini
adalah salah satu hasil karya dari Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah
atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, (lahir di
Maninjau, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 –
meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun). Beliau merupakan sastrawan Indonesia, sekaligus
ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik.
Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling
banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai Hamzah
Fansuri di era modern. Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan
untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi atau abuya dalam bahasa Arab
yang berarti ayahku atau seseorang yang dihormati.
Ayahnya adalah Haji Abdul Karim bin Amrullah, pendiri
Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sementara ibunya adalah Siti Shafiyah
Tanjung.
Hamka juga banyak menghasilkan karya ilmiah Islam dan
karya lain seperti novel dan cerpen. Pada tahun 1928, Hamka menulis buku
romannya yang pertama dalam bahasa Minang dengan judul Si Sabariah. Kemudian,
ia juga menulis buku-buku lain, baik yang berbentuk roman, sejarah, biografi
dan otobiografi, sosial kemasyarakatan, pemikiran dan pendidikan, teologi,
tasawuf, tafsir, dan fiqih. Karya ilmiah terbesarnya adalah Tafsir al-Azhar. Di
antara novel-novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah
Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli juga menjadi perhatian umum dan menjadi
buku teks sastra di Malaysia dan Singapura. Beberapa penghargaan dan anugerah
juga ia terima, baik peringkat nasional maupun internasional.
Hamid dan Zainab adalah tokoh utama dalam novel ini. Hamid
adalah seorang anak yatim. Ayahnya meninggal ketika ia masih berusia empat
tahun. Ia tinggal bersama ibunya dalam keadaan melarat. Sementara Zainab adalah
putri sematawayang dari keluarga kaya, Engku Haji Jaafar dan Mak Asiah.
Engku Haji Jaafar adalah seorang yang baik hati. Hamid
disekolahkan bersama putrinya, Zainab. Hamid menganggap Zainab sebagai adik
kandungnya sendiri. Setelah lulus dari sekolah rendah (H.I.S), mereka menduduki
Mulo. Setelah tamat dari Mulo, Zainab tidak melanjut karena ia telah memasuki
masa pingitan. Sementara Hamid masih disekolahkan oleh Haji Jaafar untuk
melanjut studi ke Padang Panjang.
Saat itu Hamid telah menaruh rasa kepada Zainab. Namun
Ia tak mampu untuk mengutarakannya. Ia sadar bahwasanya mereka bagaikan langit
dan bumi yang tak mungkin untuk bersatu. Namun ternyata Zainab mempunyai rasa
yang sama kepada Hamid.
Setelah beberapa lama kemudian, Haji Jaafar dipanggil
oleh sang Maha Pencipta. Belum berapa lama Beliau meninggal, sang ibunda
tercinta meninggal dunia. Betapa sedih hati Hamid.
Cobaan yang dialami Hamid tidak cukup sampai disitu.
Mak Asiah, ibunda dari Zainab meminta Hamid untuk membujuk Zainab agar bersedia
menikah dengan anak saudara Haji Jaafar. Betapa pilu hati Hamid ketika
mendendengarkan permohonan Mak Asiyah. Ia tak sanggup untuk melakukannya.
Betapa Ia sangat mencintai Zainab.
Ia akhirnya memutuskan untuk pergi dari Padang untuk
membunuh segala perasaannya kepada Zainab. Setelah sampai di Medan, Ia membuat
surat untuk Zainab, surat pertamanya. Dan melanjutkan perjalanannya ke tanah
suci Mekkah.
Setelah setahun berada di Mekkah, Ia bertemu dengan
Salleh, teman sekaligus sahabat Hamid dikampung. Istrinya, Rosnah, juga
merupakan teman dekat Zainab. Ia memberitahukan bahwasanya Zainab juga
mencintainya dan Ia tak jadi menikah dengan pemuda pilihan mamaknya. sekarang
Ia sedang sakit-sakitan karena menanggung rindu kepada Hamid. Salleh pun
mengirimkan surat kepada istrinya, Rosnah, tentang pertemuan mereka. Akhirnya
Rosnah menyampaikan kepada Zainab bahwasanya Hamid akan pulang ke kampung
halamannya setelah menunaikan ibadah Haji.
Zainab pun merasa gembira dan Ia kembali mengirim
surat kepada Hamid. hamid pun semakin menggebu-gebu untuk pulang ke kampung
halamannya. Itulah sebabnya Ia tetap memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah
Haji walaupun dalam keadaan sakit.
Pada saat wukuf di Padang Arafah, kondisi tubuh Hamid
semakin melemah. Pada saat itu pula, Salleh mendapat kabar bahwasanya Zainab
telah meninggal. Hati Hamid sangat terpukul. Ia menyerahkan diri sepenuhnya
kepada Allah SWT.
Ketika mereka selesai mengelilingi Ka’bah, Hamid minta
diberhentikan di Kiswah dan berdo’a. “Ya
Rabbi, Engkaulah Yang Maha Kuasa, kepada Engkaulah kami sekalian akan kembali”
Setelah itu suaranya tidak terdengar lagi. Ia telah
dipanggil oleh Sang Maha Pencipta.
Kelebihan
dari novel ini terletak pada ceritanya yang mampu membuat pembaca hanyut dan menitikkan
air mata. Namun bahasa yang digunakan sulit untuk dipahami karena menggunakan
bahasa Melayu.
Begitu
banyak pesan yang terkandung dalam novel ini. Seperti berserah diri kepada
Allah SWT, menaati kedua orangtua, dan kesabaran dalam menjalani hidup. Buku
ini sangat baik dibaca oleh para remaja, dewasa bahkan orangtua, karena cerita
ini memiliki pesan kehidupan yang sangat tinggi dan sangat religius.