The Sacrifice
Oleh:
Selli Tiolita Hasibuan
Langkah
kakinya tegas melewati koridor kampus. Seperti biasa, ia menyempatkan diri
untuk sekadar membaca mading untuk mengetahui informasi terbaru di kampusnya. Tas
ranselnya menggembung, sepertinya mata kuliah hari ini sangat padat. Bahunya
yang kekar tentu saja mampu menanggung beban yang tak seberapa itu. Ia
membenarkan letak kacamatanya agar dapat membaca dengan nyaman.
Seketika matanya tertuju pada satu kertas
pengumuman. Ia membacanya dengan cermat dan tersenyum simpul. Tampaknya itu
adalah sesuatu yang tidak biasa. Ia membaca pengumuman itu dengan seksama dan
penuh dengan konsentrasi.
“Baca
apa, San?”
Wawan,
yang merupakan teman sekelasnya menepuk pundaknya dari belakang. Lantas ia tersentak dan langsung menoleh.
“Ini,
Wan, ada beasiswa S2 ke Australia. Kita kan tahun ini wisuda, jadi gak ada
salahnya kan kalau kita mencoba melanjut ke jenjang studi selanjutnya?”
“Iya,
San. Aku juga ada niat mau nyambung S2, San. Tapi kayaknya mau ngambil di dalam
negeri aja. Ya sudah, aku masuk dulu ya. ”
“Oke,
Wan.”
Ia
kembali membaca pengumuman itu dan mengambil android dari saku celananya. Ia
mencatat hal-hal penting di notes androidnya. Ia bergegas memasuki kelas, jam
tangan hitamnya telah menunjukkan angka 07.28 sementara kelas akan dimulai pada
pukul 07.30. Ia melangkah dengan tegas menuju ruang kelasnya di lantai tiga.
Sudah
hampir sepuluh menit mereka di ruangan, namun dosen mereka belum juga datang.
Hasan yang merupakan komisaris di kelasnya segera menuju ke depan kelas dan
memanggil satu per satu nama yang ada di absensi kelas mereka. Setelah itu ia memberikan
info yang ia baca di mading kepada teman-temannya.
“Guys,
udah pada baca info yang ada di mading?”
“Info
apa, San?”
Rafa
yang duduk di bangku nomor dua dari depan segera menyucurkan tanya.
“Tadi
Hasan baru baca mading, ternyata ada beasiswa ke Australia. Cuma mau bagi info
aja ke teman-teman, manatau ada yang berminat untuk ikut.”
Seisi
kelas mulai riuh. Hasan dihujani puluhan pertanyaan dari teman-temannya.
“Udah,
gini aja. Nanti setelah selasai kelas ini, kalian lihat aja mading yang ada di
lantai satu di depan Open Stage.
Disitu ada info lengkapnya. Oke.”
“Thanks ya, San.”
“Sipp!”
***
Hasan
pulang dengan perasaan bahagia. Ia tak sabar untuk memberitahukan kabar gembira
ini kepada ibunya. Pasti ibunya akan sangat senang mendengar kabar dari Hasan.
“Assalamu’alaikum, bu.”
Ia mendapati pintu yang tidak terkunci
dan segera memasuki rumah. Ternyata ibunya sedang memasak di dapur. Ia
mengucapkan salam kepada ibunya dan duduk di meja makan.
“Kok tumben pulangnya cepat, nak? Baru
jam 12 sudah pulang.”
Wajah tua ibunya diselimuti oleh kepulan
asap masakan.
“Ibu masak apa?”
Hasan memegang perutnya yang
menandakan bahwa ia sudah kelaparan.
“Hasan
sudah lapar ini bu. Bau masakan ibu membuat cacing-cacing yang ada di perut
Hasan jadi kelaparan.”
“Kamu itu loh, San. Bilang aja kalau
kamu mau makan.”
Ibunya tersenyum menanggapi candaan
anak laki-lakinya itu. Hasan memang suka bercanda dengan ibunya. Karena ibu-lah
yang satu-satunya ia punya saat ini.
“He he, ibu tau aja. Bu, Hasan mau
ngasih kabar gembira untuk ibu.”
“Kabar gembira apa, nak?”
Ibunya segera duduk di samping putra
semata wayangnya itu.
“Bu, Hasan dapat beasiswa S2 ke luar
negeri, bu.”
Hasan dengan bangga menunjukkan surat
pernyataan kelulusan kepada ibunya. Ibunya perlahan membukanya dan membaca isi
surat tersebut.
“Australia? Kamu mau kuliah di
Australia, nak?
“Iya, bu. Hasan udah diterima dan
besok mau wawancara, bu.”
Ibunya terdiam, air wajahnya
menunjukkan kesedihan yang mendalam. Putra semata wayangnya akan
meninggalkannya sendiri.
“Ibu kenapa? Kok sedih? Hasan bakalan
kuliah ke luar negeri, bu. Pasti ibu bangga kan?”
“Iya, nak. Ibu sangat bangga sama
kamu, nak.”
Ibunya
langsung pergi menuju ruang tengah dan meninggalkan Hasan sendiri di meja
makan.
“Ibu
kenapa, bu?”
Hasan
menghampiri ibunya yang sedang duduk di teras rumah sambil merenung. Mata
ibunya sembab, sepertinya ibunya baru saja menangis.
“Nggak
kenapa-kenapa kok, nak. Ibu sangat bangga kamu bisa mendapat beasiswa ke luar
negeri, nak.”
“Ia,
bu. Hasan pasti bakal membuat ibu bangga. Hasan janji, bu. Oh iya bu, Besok
Hasan berangkat ke Jakarta, bu. Ada pembinaan yang harus dilakukan disana.”
“Iya,
nak, ibu akan selalu mendo’akanmu.”
“Makasih
ya bu. Hasan sayang banget sama ibu. Hasan janji akan membanggakan ibu dan
membuat ibu tersenyum. Hasan janji, bu.”
Hasan
segera kembali ke kamar dan membereskan barang-barang yang akan dibawanya ke
Jakarta besok. Ia harus tiba di bandara pukul 07.00 pagi, sehingga ia harus
segera bergegas malam ini.
Ia
sangat bahagia karena mimpinya untuk melanjut S2 ke luar negeri segera
terwujud. Tinggal menghitung beberapa hari lagi ia akan segera tiba di
Australia. Ia tak sabar untuk meneguk manisnya ilmu di Negeri Kangguru itu.
***
Suara
alarm membangunkannya dari tidur yang lelap. Ia segera bergegas mengambil
wudhu’ untuk melaksanakan Sholat Tahajjud. Ia berdo’a kepada Allah untuk
memudahkan langkahnya dan memberikan yang terbaik untuknya.
Setelah
sholat, ia berniat membangunkan ibunya untuk melaksanakan Sholat Tahajjud.
Namun saat ia ingin mengetuk pintu kamar ibunya, ia mendengar suara tangisan
ibunya.
“Ya
Allah, betapa putraku sangat bahagia karena Engkau mudahkan jalannya untuk
meraih mimpi-mimpinya. Tapi Ya Allah, apakah hamba yang sudah tua ini harus
tinggal sendiri? Namun betapa ia sangat bahagia, Ya Allah. Itu adalah mimpi
terbesarnya selama ini. tolong mudahkan jalannya dalam meraih mimpi-mimpinya,
Ya Allah.”
Seketika
jantungnya bergemuruh. Ia bagaikan tersambar petir di tengah badai. Ia tersadar
akan sesuatu yang terlupakan. Ia tersadar bahwa ada sosok yang lebih berharga
dari segala-galanya yang harus ia jaga dan lindungi. Namun mengapa ibunya tidak
melarangnya untuk pergi? Mengapa ibunya tidak menyatakan penolakan terhadap kepergian
Hasan?
Air
matanya menetes. Ia duduk di ruang tamu menunggu ibunya selesai shalat. Tak
lama kemudian ibunya keluar dari kamarnya dan mendapati putranya sedang duduk
di ruang tengah.
“Sudah
mau berangkat, San? Kok cepat sekali?”
Hasan
segera menghampiri ibunya dan mencium kaki ibunya.
“Ibu,
maafkan Hasan. Hasan gak akan pergi ke Australia, bu. Hasan gak akan ninggalin
ibu sendiri. Hasan akan tetap menemani ibu disini, ibu jangan khawatir ya, bu.”
Ibunya
heran melihat perilaku putranya.
“Loh,
kamu kenapa, nak? Kok tiba-tiba membatalkan keberangkatan ke Australia? Itu kan
mimpimu dari dulu, nak?”
“Gak,
bu. Hasan gak mau pergi ke Australia. Hasan cuma mau disini menjaga dan merawat
ibu. Maafkan Hasan ya bu, karena gak mikirin ibu. Hasan memang egois, bu. Maafkan
Hasan ya, bu.”
“Ya
Allah, anakku. Semoga apa yang kamu korbankan diganti dengan yang lebih baik
oleh Allah, nak.”
Mereka
hanyut dalam kesedihan masing-masing. Itulah ibu, ia akan sebisa mungkin
membuat anaknya bahagia, walaupun hatinya terluka.