Kita dan Perubahan
Oleh : Selli T. Hasibuan
Setiap
manusia –tanpa terkecuali- pasti selalu ingin melakukan perubahan. Karena
perubahan adalah salah satu ciri utama yang pasti dimiliki oleh makhluk hidup.
Perubahan yang dikatakan disini pastilah perubahan ke arah yang positif. Tak
ada satupun manusia yang menginginkan perubahan ke arah negatif. Setiap
individu selalu ingin mengubah hal yang baik menjadi lebih baik. Begitu pula,
ingin mengubah hal yang buruk menjadi lebih baik. Inilah realita manusia.
Kita
ingin melakukan perubahan bukan tanpa sebab. Perubahan dilakukan pasti karena
adanya kesadaran akan realita yang rusak. Bagaimana seseorang tahu bahwasanya
realita saat ini rusak tentunya diperoleh dari penginderaan. Dalam hal
penginderaan, ada dua jenis penginderaan. Yang pertama adalah penginderaan terhadap
materi dan yang kedua adalah non-materi.
Penginderaan
terhadap materi pada umumnya sama tiap individu. Karena berwujud materi.
Contohnya adalah panasnya api, dinginnya es, dan harumnya bunga melati. Di
dalam hal ini, tidak ada satupun yang berpendapat bahwa api itu dingin dan es
itu panas. Seluruh individu –tanpa terkecuali- pasti mengindera hal yang sama.
Berbeda
halnya dengan penginderaan non-materi. Tiap individu pasti memiliki pemikiran
yang berbeda mengenai hal ini. Tergantung pada tingkat pemikiran manusia,
apakah pemikiran seseorang tersebut dangkal, normal atau tajam. Contohnya saja,
jika ada seseorang yang mencuri demi menolong orang lain. Sebagian orang akan
menganggap bahwasanya itu adalah hal yang sah-sah saja. Toh, tujuannya untuk
menolong orang –meskipun jalannya salah-. Namun, berbeda dengan orang yang
berpikiran tajam, yang telah mengerti syarat ahsanul amal (amalan yang terbaik)
yang harus memiliki niat yang ikhlas dan cara yang benar. Atau contoh yang lain
adalah jika orang yang berpikiran dangkal mengatakan bahwa jeruk itu berwarna
kuning dan rasanya manis, sedangkan orang yang tingkat pemikirannya normal akan
mengatakan bahwasanya jeruk itu berwarna kuning, rasanya manis dan mengandung
vitamin C. Namun orang yang berpikiran cemerlang atau tajam akan mengatakan
bahwasanya jeruk itu berwarna kuning, rasanya manis, mengandung vitamin C, apa
fungsinya bagi tubuh, serta sampai pada penciptaan buah tersebut. Yang pasti
diciptakan oleh sang maha Pencipta.
Berdasarkan
tingkat penginderaan seseorang terhadap benda non-materi, maka berbeda pulalah
penginderaan seseorang terhadap sesuatu yang rusak. Karena kerusakan adalah
contoh dari penginderaan non-materi. Penginderaan akan kerusakan akan mendorong
seseorang untuk melakukan perubahan. Namun berpikir untuk melakukan perubahan
saja tidak cukup. Haruslah ada alternatif yang lebih baik sebagai pengganti
kerusakan tersebut. Alternatif itu seperti tujuan dari perubahan yang kita
lakukan. Dalam mewujudkan alternatif sebagai tujuan perubahan, haruslah
dijalankan dijalan yang benar dan menggunakan metode yang benar. Ibarat jika
kita ingin mencari alamat si A, kita harus memiliki denah lokasi rumah si A
tersebut agar tidak tersesat.
Ada
4 hal yang harus dipahami sebelum menjalani proses perubahan. Yang pertama
adalah, kita harus sadar bahwasanya perubahan itu memang sulit. Sehingga hanya
orang-orang yang kuat dan memiliki pemikiran yang cemerlanglah yang mampu
melakukannya. Yang kedua adalah, kita harus memandang bahwasanya perubahan itu
adalah proses untuk meraih tujuan. Yang ketiga adalah, perubahan yang kita
lakukan haruslah berada dijalan yang benar. Dan yang terakhir adalah,
merealisasikan tujuan dari perubahan tersebut dengan penuh kesungguhan.
Perubahan
dilakukan karena adanya realita yang rusak. Karena kerusakan realita yang sudah
sangat parah dan sangat terpuruk, maka kita harus sesegera mungkin dalam
melakukan perubahan. Kita harus mampu merealisasikan tujuan alternatif tadi
guna menyejahterakan ummat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar