These are my works ^-^

Selasa, 24 Februari 2015

Solusi yang Gagal

Saat ini umat sedang sakit, yang menuntut segeranya pertolongan datang. Seperti yang telah dijelaskan pada judul post sebelumnya, Kita dan Perubahan, bahwasanya realita saat ini memang benar-benar sangat rusak yang menyebabkan umat menjadi sakit. Dalam mengatasi penyakit umat, para intelektual mencoba untuk memberikan solusi untuk mengatasi penyakit umat. Mereka telah mencoba beberapa solusi namun tetap saja kegagalanlah yang mereka tuai. Mengapa solusi yang ditawarkan oleh para intelektual yang berpijak pada pemikiran itu bisa gagal?
Penyebab kegagalan akan solusi yang telah ditawarkan memiliki dua kemungkina. Kemungkinan yang pertama adalah, tidak adanya pemahaman akan penyakit umat, sehingga para intelektual yang dikatakan berperan sebagai dokter umat tadi tidak mampu memberi obat yang tepat kepada pasiennya. Bagaimana tidak, penyakitnya saja tidak diketahui, konon lagi obatnya.

Kemungkinan yang kedua adalah, sang dokter mampu mediagnosis penyakit apa yang sebenarnya dialami oleh umat, namun mereka tidak memberikan obat sesuai dengan takaran. Yang seharusnya diberikan sehari tiga kali, malah diberikan sekali tiga hari. Sementara umat sudah tidak tahan lagi dijadikan bahan mal praktik oleh para intelektual yang katanya berperan sebagai dokter umat. Oleh sebab itu, dibutuhkan obat yang ampuh dan mujarab untuk menyembuhkan penyakit umat saat ini.

Ada beberapa teknik yang pernah dilakukan guna menyembuhkan umat, namun lagi-lagi hasilnya adalah kata GAGAL. Namun walaupun demikian, teknik-teknik ini masih saja tetap didengungkan oleh para intelek.

1.    Kebangkitan melalui Ekonomi
Mereka mengatakan bahwasanya kemunduran yang dialami oleh umat saat ini disebabkan oleh kurangnya harta kekayaan dan sumber ekonomi. Namun pada faktanya, semua itu hanya omong kosong. Buktinya, Amerika yang menjadi negara adidaya saat ini bukan bangkit karena ekonomi. Justru setelah mereka lepas dari penjajahan Inggris-lah tampak adanya kebangkitan dari segi ekonomi, militer dan industri. 

Kekaisaran Rusia yang juga bangkit dari segi ekonomi. Kondisi mereka berubah saat mereka memutuskan untuk mengganti sistem yang mereka gunakan saat ini. ya, sistem baru. Bukti yang lain adalah, kalau saja kebangkitan disebabkan karena faktor ekonomi, pastilah Arab Saudi dan Persia telah bangkit. Karena kedua negara ini memiliki ladang minyak yang melimpah.

Contoh-contoh diatas dapat dijadikan sebagai bukti bahwasanya ekonomi tidak mampu dijadikan sebagai asas kebangkitan. Karena kebangkitan ekonomi adalah salah satu dampak dari bangkitnya suatu negara dengan asas yang kokoh.

2.    Kebangkitan melalui Pendidikan
Katanya, kemunduran disebabkan karena tingginya angka buta huruf, sedikitnya jumlah sarjana dan tidak meratanya penyebaran sarjana. Slogan seperti “ilmu itu menjadi asas kebangkitan” menjadi landasan yang mereka dengungkan sebagai asas kebangkitan. Namun faktanya, teknik itu juga tidak dapat dijadikan sebagai asas kebangkitan. Lihat saja, bukankah jumlah kaum terpelajar di negeri-negeri muslim –jika digabungkan- lebih banyak daripada jumlah di Barat? Lihat saja banyaknya perguruan-perguruan tinggi di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Kairo, dll, dibandingkan dengan jumlah perguruan tinggi di Barat. Namun apa yang terjadi? Kaum Barat lebih bangkit daripada negara-negara yang memiliki jumlah kaum terpelajar yang tinggi.

Saat Islam berjaya, kemajuan dalam ilmu pengetahuan malah melejit pesat. Hal ini muncul setelah islam bangkit, bukan karena pendidikan yang dijadikan sebagai asas kebangkitan. Hal ini secara otomatis menunjukkan tingginya kaum terpelajar tidak mampu membangkitkan umat. 

3.    Kebangkitan melalui Akhlak
Ini adalah sebuah kalimat yang sangat familiar. Setiap ada kerusakan, pasti yang disalahkan akhlak. Mereka mengatakan bahwa tingginya akhlak akan membawa pada kebangkitan. Pun begitu juga sebaliknya. Hal itu diperkuat dengan syair-syair ungkapan Syauqi, “Jika akhlak mereka hilang, maka mereka akan punah” atau “sia-sia-lah upaya pemimpin yang membangun kaumnya jika akhlak kaum itu penghancurnya.” Memang, bukanlah hal yang salah untuk mengatakan bahwasanya akhlak adalah salah satu faktor kebangkitan. Namun itu hanya berlaku untuk individu saja. Padahal kebangkitan yang dimaksud disini adalah kebangkitan masyarakat, bukan individu. Sebagian mengatakan bahwa masyarakat adalah kumpulan individu. Jadi, jika akhlak individu diperbaiki, maka masyarakat juga akan demikian. Padahal nyatanya, masyarakat itu bukan hanya terbentuk dari kumpulan individu, melainkan adanya ikatan antar-individu dan sistem yang mengikat ikatan itu.

Akhlak individu memang penting, namun faktor pendukung akhlak juga tak kalah penting. Contohnya, seorang anak yang tidak mau mencuri. Ia tidak serta-merta memiliki akhlak seperti itu. Ada beberapa faktor dibaliknya. Misalnya, ayah yang mengajarkan untuk tidak mencuri, pandangan masyarakat terhadap mencuri, bahkan larangan agama untuk mencuri. Jadi, hal yang harus diserukan adalah faktor-faktor yang mampu meningkatkan akhlak tadi.
Contoh lainnya adalah, jika akhlak dikatakan sebagai asas kebangkitan, apakah Barat memiliki akhlak yang lebih baik daripada Indonesia?

4.    Kebangkitan melalui Militer
Timbunan senjata di Arab melebihi timbunan senjata yang dimiliki oleh negara yang bangkit. Mengapa demikian? Karena senjata yang berada pada negara yang tidak bangkit akan seperti senjata yang dipegang oleh bayi atau orang gila yang menembak ke segala arah, tanpa tahu mana teman dan mana lawan. Atau bahkan mungkin mereka akan menembak saudara mereka sendiri.

Ke-empat metode atau teknik diatas, yang dikatakan mampu untuk membangkitkan umat, nyatanya tidak berfungsi karena metodenya adalah metode yang salah. Apa penyebab gagalnya metode yang empat tadi?
1.    Para pemikir atau intelek tidak memahami apa sebab-sebab yang membawa umat pada kemundurannya. Karena mereka menggunakan teori yang dangkal yang menghasilkan solusi yang dangkal pula, tidak sampai ke inti.
2.    Mereka tidak menyadarkan pembahasan pada perkara-perkara kebangkitan. Mereka hanya fokus pada bagaimana cara untuk meningkatkan ekonomi, militer dan industri. Padahal seharusnya mereka memikirkan bagaiman cara untuk membangkitkan umat. Sebab kebangkitan dari segi ekonomi, militer dan industri adalah efek samping dari kebangkitan yang sesungguhnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar